BERITALAGU

BERITALAGU – ku keluar kamar dengan perasaan tak menentu, listrik yang telah menyala kembali, menerangi langkahku, mengarahkan kakiku kearah ruang makan, mengambil gelas, mengisinya dengan air, meneguknya cepat, seperti ada rasa haus yang mendera setelah sekian lama kerongkongan tidak dibasahi, walaupun udara dingin merasukiku sampai ke sendi tulang. Dan sepertinya kudengar dari arah depan layaknya suara ban yang melindas batu-batu kerikil, aku memasang telinga lebar-lebar, menatap kearah ruang depan. AGENT POKER TERCAYA

Kulirik kearah dinding, jam menunjukkan pukul 12 lewat, rasa keingintahuanku segera hilang, ketika kudengar suara mobil seperti menekan gas dalam-dalam, seolah untuk memastikan bahwa itu adalah hembusan yang terakhir yang terbuang, sebelum mematikan mesin. Tante mala dan Tante Marissa pulang !. CBDPOKER

Kuarahkan kakiku kearah ruang depan dengan cepat, membukakan pintu yang tadi aku kunci, beruntung aku masih terbangun, seandainya pintu dalam keadaan terkunci seperti ini dan aku pulas dikamar dengan Moza, situasi bisa kacau, bukan tidak perempuan itu yang terbangun lebih dahulu dan membukakan pintu dalam keadaan bajunya yang berantakan, mungkin akan menjadi bahan pertanyaan bagi sang Mama dan Sang Tante dan mungkin yang lebih parah lagi adalah akan membuat amarah Moza tersulut.. ngeri ah ngebayanginnya !

“Hai Fan, belom tidur?” seru Tante Marissa, saat melihatku membukakan pintu untuknya, Poker Indonesia Asli

hmmmm, sepertinya tercium hembusan napas yang beraroma minuman keras dari mulutnya, kulihat ia berjalan melewatiku terburu-buru, aku memandangnya wajahnya sekilas dan menjawabnya,

“Belum Tan, belum ngantuk nih” kataku sekenanya, dan sepertinya beliau tak menunggu jawabanku,
“Fan, liat tuh Tante Mala, tolong bantuin dia gih “ kata Tante Marissa lagi, sambil menunjuk kebelakangnya dan kemudian berusaha meneruskan langkahnya tanpa menunggu reaksiku. Agen Poker Online

CBDPOKER

Aku melihat memalingkan mukaku kearah yang ditunjuknya, dan kulihat disana, ke arah mobil, tante Mala tampak duduk dikursi depan, pintu mobil terbuka namun beliau kelihatan masih duduk, berusaha dengan susah payah untuk turun dari mobil.
Cerita Dewasa Terbaru Tante Marissa
Aku melihat ke arah Tante Marissa seolah hendak menanyakan ada apa dengan Tante Mala. Dan sebelum aku keluar kata-kata dari mulutku, Tante Marissa melanjutkan perkataannya,

“Hihihihihihi, lagian gak biasa minum, pake ikut-ikutan minum, ya begitu deh “ kata tante Marissa sambil cekikikan,
“Aduh tante kebelet nih, pengen pipis “ dan selanjutnya beliau melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa.

Aku segera keluar menghampiri mobil di depan, kulihat Tante Mala, tampak memejamkan matanya, entah tertidur atau tidak, namun dengan perlahan aku meraih tangan beliau, menggamitnya, menarik keluar tubuh beliau, kulihat mata beliau terbuka, tersenyum seakan senang melihat kedatanganku, tersungging senyuman dari bibirnya,

“Hai Fan “ hanya itu saja kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Pasrah, tak ada gerakan meronta atau melawan, ketika aku menarik tubuhnya, menaruh lengannya dibahuku, memapahnya menuju ruang dalam.

Entah sadar atau tidak, tante Mala menurut saja, dari mulutnya terdengar kata-kata meracau yang aku tidak mengerti, pikiranku hanya terfokus pada membawanya ke dalam rumah, entah sepertinya saat ini aku tidak memikirkan hal yang lain, walaupun kurasakan payudara Tante Mala menempel ketat pada badanku, mungkin kalo saja dilain kesempatan, itu merupakan hal yang selalu kuinginkan, membopongnya, mengambil kesempatan sambil meremas-remasnya, namun saat ini hal tersebut kubuang jauh-jauh dari pikiranku.

“Mabok bae… mabok bae….”jah kayak lagu aja, makanya bu, kalo mo mabok liat-liat dulu, untung ada

Tante Marissa, coba kalo sendiri, mungkin dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti ini, dan melihat pakaian yang dikenakannya, akan mengundang kaum adam untuk menyentuhnya, duh bisa diapa2in nih Tante, bisa-bisa diperkosa asal-asalan, hehehe..

Lagian apaan sih yang diminum ? Chivas, Vodka, Martini, Scotch, Apa Tomi, alias topi Miring ? kalo yang minum ini katanya topinya musti dimiringin biar keliatan jalannya lurus, yee walaupun gw orang kampung, gue juga tau nama-nama minuman keras, pan gw sering nonton pilem, jadi gak gaptek-gaptek amat soal gituan, minuman.

BACA JUGA  : Kuperkosa Pembantuku Yang Bohay Dan Liar Saat Dia Tidur

Emang elo sekali mo mabok, minuman apaan aja dicampurin, dioplos, mending minuman, lah kadang bukan minuman dicampurin, alkohol 70%, kratingdaeng, spirtus (yang ini bukan minuman bro, ini biasa gw pake buat nyalain patromak, lampu yang dipake mas kiwil buat dagang nasi goreng !), semuanya dah masukin, biar cepet fly, sekalian aja loe masukin, minyak tanah, obat merah, kunyit ama jahe, sekaligus buat ngobatin korenglo ! huakakak.

Eh sekalinya dibawa ke bar, bingung, gak tau mo mesen apaan, bingung ama nama yang aneh-aneh, takut salah, begitu ditanya mo pesen minum apaan, maen jawab aja, “Jeniper” kali ini bartender-nya yang bingung, perasaan dari deretan minuman sebanyak ini, gak ada deh yang namanya Jeniper, lah iyalah, jeniper yang dimaksud ‘kan “Jeruk Nipis Peres”, xixixixi

Perlahan, selangkah demi selangkah, tubuh mulus, sintal, bahenol ini kupapah menuju kamar, kamar tengah yang kosong, yang sebelumnya ditempati olehnya dan Moza. Kuletakkan tubuhnya di pinggir ranjang, mendudukkannya, kemudian merebahkannya, aku angkat kakinya, dan menaikkannya keatas.

Entah sepatunya terlepas dimana, yang jelas saat itu kakinya yang telanjang, dengan betis jenjang, kusejajarkan dengan tubuhnya yang sudah terbaring. Ada rasa aneh menghinggapi dadaku, mengingat kejadian malam dahulu, ketika tubuh mulus yang dimiliki wanita cantik ini menggoda imanku. Teringat akan kejadian dimana aku menikmati tubuh indah ini, melepaskan hasrat birahiku, menyentuh bagian-bagian yang selama ini tertutup dan menikmatinya.

Segera aku lepas bayang-bayang itu, membuangnya jauh-jauh, aku teringat akan wanita yang saat ini tidur dikamarku, Moza, ya, hanya wanita itulah saat ini yang ada dibenakku, hanya ada satu pilihan yang harus aku pilih, anaknya atau mamanya !
Cerita Mesum Terbaru Tante Marissa
Aku melangkah keluar, meninggalkan Tante Mala tergolek sendiri dikamar, sesampai dipintu kulirik sekilas kearah ranjang dimana dia berada, betis jenjang dengan paha mulus dan putih layaknya Ken Dedes, membuat sedikit gejolak di dadaku, seandainya pikiran kotor masih memenuhi benakku, seandainya Moza tidak tidur dikamarku, seandainya hasrat birahiku yang tadi bergelora belum tertumpahkan dan seandainya Tante Marissa tidak ada disini atau sudah tenggelam dalam tidur nyenyaknya, mungkin ceritanya akan lain.

Dengan posisi, seperti itu, terlihat beliau tampaknya setengah sadar, mungkin akibat rasa pusing menderanya, sehingga, begitu tadi kuletakkan dan kubaringkan, dan sepertinya beliau langsung mencari posisi yang enak, berbalik, membuat pakaian bawahnya tersingkap hingga kebatas paha meperlihatkan celana dalamnya, serta mungkin tanpa disadarinya saat ia berbalik, membuat tali pakaian yang menyangga dipundaknya melorot, dan itu yang membuatku terhenyak, bagaimana tidak, hal tersebut membuat bagian atas bajunya melorot sebagian dan memperlihatkan buah dadanya yang mungkin semenjak tadi merasa sesak berada didalam baju yang dikenakannya dan itu sempat membuatku sedikit mupeng.

Kutinggalkan beliau, kututup pintu kamar rapat-rapat, dipikiranku terlintas, seandainya beliau terbangun dan kemudian bermaksud ke kamar kecil atau apalah yang membuat dia keluar kamar, tentu pintu kamar akan berbunyi ketika dibuka, dan itu cukup untuk membuatku bersiaga, ya minimal bila aku sedang “mengerjakan” sesuatu lagi terhadap Moza, aku bisa dengan cepat menutupinya… hehehe.. dasar !.

Lah iya dong, coba aja bayangin, seandainya dengan pintu yang tidak dikunci seperti tadi, melihat aku sedang khusyu dan serius, tiba-tiba dari pintu nongol Tante Mala, yang ada urusan bisa runyam, celaka !, bisa-bisa tengah malam aku dimaki-maki, diomelin, kaya tetanggaku dulu, diomelin ama bininya gara-gara pulang pagi, disangka ngapelin cewek RT sebelah. Baru sampe pintu, prang-prang, dilempar piring, besoknya dicengirin sama temen tongkrongan katanya

“dirumah elu semalem ada UFO ya ?” alias piring terbang, xixixixixixixixixixi.

Ya sapa yang mau coba ?, kalo kaya gini kan minimal, begitu bunyi “krek”, artinya pintu kamar sebelah dibuka, aku bisa cepat-cepat narik celana, nutupin si dede atau minimal nutupin pake selimut, terus pura-pura tidur deh, sembari dingorok-ngorokin dikit, hehehe…aman.

Mulanya aku hendak kembali ke kamar tidurku, namun langkahku terhenti, sejenak seperti ada yang menahan langkahku, ya, terlintas dipikiranku bahwa ada seseorang dirumah ini, yang mungkin masih dalam keadaan sadar, Tante Marissa !, ya beliau memang kelihatannya belum tidur, bukankah barusan, sewaktu pulang, beliau langsung masuk kamarnya dan sepertinya beliau buru-buru langsung menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Dan satu lagi yang kuingat bahwa aku belum menutup pintu depan, saat membawa Tante Mala tadi, karena mungkin aku terfokus pada beban yang aku bawa sehingga aku tak sempat menutupnya.

Aku berbalik, melangkah kearah depan, menuju ruang tamu, bermaksud untuk menutup pintu dan sekaligus memeriksa bahwa keadaan aman, walaupun mungkin didepan sudah ada mang Dharta yang menjaga, tapi tetap saja kita harus menjaga segala kemungkinan kan ?. Beberapa langkah di depan, sebelah kiri, kulihat pintu kamar Tante Marissa terbuka sedikit, dan lampu masih menyala terang. Kulangkahkan kakiku, dan memang bila aku hendak ke ruang tamu disana, mau tak mau aku melewati kamarnya, dan sepertinya ada sesuatu yang mengarahkanku untuk menoleh kearah kamar Tante Marissa, langkahku yang tadinya cepat, seakan ada tembok didepanku yang menyuruhku untuk berhenti.

Kulihat di dalam kamar, Tampak Tante Marissa sedang menggunakan handuk, beliau sepertinya baru selesai membersihkan diri, atau mungkin beliau habis mandi, duh, diudara sedingin ini, mungkin kalo aku, jangankan mandi, cuci muka aja mungkin aku akan beku kedinginan, tapi kalo beliau, ya mungkin udara sedingin ini sudah biasa, karena di negara yang sekarang dia tinggali suhu udaranya lebih dari ini.

Keluar kamar, aku menuju ruang keluarga, melewati kamar Tante Marissa, pintu kamar terbuka sebagian, seperti instink saja, kepalaku menoleh ke arah dalam, dan upss..!

Di dalam kamar kulihat Tante Marissa tampaknya sedang mengganti pakaiannya, duh sepertinya beliau cuek saja, pintu tidak ditutup. Kulihat beliau sedang menanggalkan handuk, melemparkannya ke atas ranjang, mungkin beliau habis membersihkan diri dari kamar mandi, biasalah wanita, sebelum tidur biasanya membersihkan sisa make-up yang menempel diwajahnya, mandi ? masa sih ? kalo aku disuruh mandi tengah malam dingin dingin begini abis hujan, dibayar berapa juga aku masih mikir, tapi gak tau kalau beliau, mungkin udara seperti ini di negaranya sana dibilang panas kali.

Tapi yang jelas, yang membuatku tercekat adalah, saat ini beliau seperti mematut-matut diri didepan kaca, dan tanpa mengenakan sehelai benangpun !. padahalkan ada lelaki dirumah ini, mana udah tengah malam lagi, udara dingin begini, bikin yang melihat jadi mupeng ! tak enak rasanya kalo aku terlihat berdiri melongo didepan kamarnya, bisa-bisa si dede yang sekarang udah lemes tak bertenaga, beringas kembali, gak ah, mendingan aku pergi. Aku menuju ruang keluarga, dimana kulihat televisi menyala, mungkin karena tadi tidak dimatikan dan saat listrik hidup kembali, otomatis televisi juga hidup.

Aku duduk disofa, namun rasanya sofa berlapis seperti kulit yang aku duduki ini, sangat dingin, mungkin karena pengaruh suhu udara, sehingga aku memutuskan untuk menurunkan tubuhku, dan duduk di karpet tebal, kemudian merebahkan badan, mengusir rasa dingin dengan meringkukkan badanku, menutupinya dengan bantal besar yang ada, dan menatap acara televisi didepan.

Mataku memang mengarah ke televisi, namun aku tak menyimak acara yang ditayangkan, pikiranku jadi melayang entah kemana, membayangkan tubuh Moza, Tante Mala yang sedang mabuk, serta Tante Marissa yang berbugil ria dikamar, pikiran kotor kembali menerjangku, sepertinya saat ini aku bagaikan raja minyak, yang bingung untuk memilih wanita mana yang hendak kujadikan sebagai teman tidurku malam ini.

Memikirkan itu malah membuat dedeku yang tadinya sudah lemas terkantuk-kantuk, ditambah hawa dingin yang menyengat membuatnya menjadi segar dan menegang kembali, duh… beberapa saat lamanya aku membayangkan, membayangkan bagaimana jika aku dikerubuti oleh para wanita ini, membayangkan bila mereka semua tidur satu kamar denganku, memperebutkanku, 4some, saling meminta untuk aku puasi, hehehehe, dan lamunanku sepertinya buyar, ketika…..

“Loh gak tidur Fan ?” terkaget aku mendengar suara dibelakangku, cepat aku menarik tanganku yang sedang berada didalam celanaku, untunglah saat itu bagian bawahku ditutupi oleh bantal besar yang tadi kupakai sebagai penghangat.

Aku menengok kearah sumber suara, kulihat Tante Marissa, sudah berdiri beberapa langkah disampingku, melihat kearahku, menatapku ramah.

“eh Tan, belum nih Tan, belum ngantuk, ini mata belom mau dirapetin, mungkin tadi gara-gara tidur siang kelamaan kali” kataku menjawabnya, sambil menggeser badanku, yang tadinya rebah, kini berusaha bangun dan duduk, tak enak rasanya berbicara dengan orang yang lebih tua, sambil tidur.

Kulakukan untuk menghormatinya, padahal saat itu aku juga agak tercengang melihat Tante Marissa, yang hanya mengenakan baju tipis, malah dapat kubilang transparan. dengan bagian dadanya yang besar tanpa bra, seperti tercetak dengan jelas, putingnya yang kecoklat-coklatan, bisa dibilang beliau saat ini setengah telanjang, sepertinya hawa dingin bukan masalah baginya.

Ruangan keluarga yang hanya diterangi oleh lampu dinding yang hanya memancarkan sinar temaram, sepertinya tidak mampu untuk menutupi kemolekan tubuh Tante Marissa, duh seandainya lampu tengah yang menyala mungkin seluruh tubuh tante Marissa akan terlihat jelas, sayang sekali, sayang seribu sayang.

Kupikir dia menyapaku hanya sebatas say hello saja, kemudian meninggalkanku memasuki kamarnya, untuk tidur, namun ternyata tidak, beliau melangkah mendekatiku, kulirik beliau dengan sudut mataku, repot nih, jangan sampe dia menghampiriku, kemudian duduk disampingku, terus merayuku, kemudian mengajakku untuk melakukan ritual seks, membuat terkapar, setelah melampiaskan hasrat kami berdua, yeeee ngarep.
Dan sayang seribu sayang saudara-saudara, beliau ternyata duduk disofa, hehehe…buyar deh angan-anganku tadi !.

Aku yang duduk dibawah menggeser maju ke depan, gak enak rasanya dibelakangku, disamping sebelah kiriku duduk wanita cantik, sementara aku cuek didepannya, menghadap ke depan, ke arah televisi, seakan tak perduli ada Tanteku yang mungkin ingin bertatap muka denganku, bukankah selama ini aku belum pernah mengobrol dengannya ? maksudku mengobrol berdua saja dengannya, biasanya aku selalu mengobrol atau bercakap-cakap dengannya, dan pasti disitu ada orang lain lagi, entah Moza, Tante Mala, atau Mang Dharta. Sebetulnya bukan hanya itu juga, tapi kan sewaktu beliau duduk kemudian seperti hendak berbaring, beliau mengangkat kakinya, lah sapa yang mau, dengkulnya nyeruduk kepalaku, bisa-bisa puyeng kepalaku, kesamber dengkul, ya mendingan aku geser… he..! dan ….

Benar saja, malam itu aku bercakap-cakap dengan Tante Marissa, mulai dari acara yang didatanginya barusan, keluargaku, pekerjaanku, keluarga Tante Mala, anak-anaknya hingga persoalan-persoalan kecil, menyangkut kehidupan keluarga besar kami, setelah beliau tinggalkan ke luar negeri, malam semakin larut, mungkin karena bahan pembicaraan telah habis, ataupun pikiran kami blank sehingga mentok untuk memulai bahan pembicaran lain, terdiam kami berdua sesaat, hingga akhirnya mata kami hanya memandang kepada acara televisi, dan tanpa sengaja, ketika acara televisi mensensor adegan ciuman, beliau membandingkannya dengan acara televisi dinegara dimana dia menetap.

Pembicaraanpun berlanjut lagi, hingga masalah seks dinegara dimana dia tinggal, mulai dari kehidupan remaja disana, dimana ia menghabiskan masa mudanya, perilaku seks mereka, hingga ke anak-anaknya yang katanya untung karena anak 2 dan laki-laki semua, beda dengan Tante Mala yang anaknya perempuan semua, hehehe…kalo disana punya anak perempuan dan umur diatas 15 wuih, bisa was-was melulu, ya ngertilah..

Entahlah sepertinya beliau sangat memahami permasalahan seputar seks, malah kalo boleh kutebak sepertinya beliau benar-benar sudah tidak indonesiani lagi ..,ya seperti menganut semacam faham seks bebas mungkin, namun katanya selama dilakukan secara aman, oleh dua insan yang saling menyukai, why not ?, begitulah kesimpulan yang kudapat dari pembicaraan dengannya. Dan satu lagi, kalo aku berbicara dengannya dan tanpa sengaja menatap kearahnya maka, kepala atas dan kepala bawahku semakin pusing ! hehehehe…

Beberapa saat percakapan berlanjut, malam semakin dingin, kulihat Tante Marissa sepertinya tidak merasakan dingin sedikitpun, mungkin karena terbiasa atau pengaruh minuman yang diminumnya tadi membuatnya tetap hangat, terlihat dari rona mukanya yang rada memerah, namun yang membuat aku heran adalah, sepertinya ia tidak ada tanda-tanda mengantuk sama sekali, malah kulihat dari mulutnya keluar kata-kata yang semakin lancar saja, hingga, aku memutuskan untuk merebahkan diri, dengan bantal besar satu-satunya yang ada diruangan ini, menyandarkan kepalaku diatasnya.

“Dingin Fan ?” katanya kepadaku, mungkin karena melihatku merapatkan kedua tangan lantas mengepitnya dengan pahaku, padahal memang selain untuk mengusir hawa dingin, sekalian juga untuk menutupi dedeku yang kelihatan semakin membesar, ya maklumlah, sapa juga yang kuat melihat lawan bicara seperti dia, udah cantik, seksi, molegh, dan dengan pakaiannya yang mengundang selera, duh seandainya dia …, mungkin sudah kuserang sedari tadi.
“Iya tan, lumayan nih !” jawabku sambil mataku menatap sekilas kepadanya, dan kemudian kembali mengarahkannya kepada acara televisi didepan, tak enak rasanya memandang terus kepadanya, bisa-bisa nanti aku dikiranya napsu melihat dia, padahal sih…. Iya…!

Dan tanpa kuduga, tante Marissa yang semula dalam posisi rebah dengan kakinya berada didekatku, dan kepalanya berada diujung sebelah sana, mengangkat badannya, bangun, yaaah, ada beberapa pikiran yang saat itu langsung menyelinap di otakku, ia bangun mungkin rasa dingin juga menyergapinya, sehingga ia bermaksud menyudahi percakapan kami dan bermaksud untuk masuk ke kamar, kedua mungkin ia merasa pegal karena dalam posisinya dengan kepala diujung sana, ia akan mudah melihat kepadaku saat bercakap-cakap, namun pada saat matanya mengarah ke televisi, maka membuat kepalanya harus menengok ke kiri, dan itu membuatnya pegal, sehingga ia harus bangun dan berganti posisi dengan kepalanya berada disebelahku, sehingga kali ini kalau mau pegal lagi maka kepalanya harus menengok ke kanan terus, hehehe..

Duh sepertinya sayang sekali kalau ia harus kembali ke kamar, padahal aku mengharapkan dia agar tertidur pulas disitu, disofa panjang itu, jadi kan kalo tiba-tiba ada acara televisi yang kiranya dapat membangkitkan rasa hornyku, mungkin, beliau dapat kujadikan sebagai bahan coli juga… hehehe, dan kalo ia berbalik, rasanya juga sedikit disayangkan, pandangan yang sedari tadi aku nikmati, saat menoleh kearahnya. Dalam cahaya ruang yang remang-remang seperti ini, sehingga bola mataku tak terdeteksi ke arah mana aku memandang, sehingga aku bisa dengan puas melihat kearah paha putih, panjang dan mulus itu, berikut isi-nya.

Dan ternyata perkiraanku semuanya salah……

Tante Marissa, dengan bertumpu pada telapak tangannya kini malah memerosotkan badannya, menjatuhkannya ke karpet dibawahnya, kini posisinya lebih dekat kepadaku, dan dengan duduk seperti itu posisi kepalanya tidak terlalu jauh denganku sehingga mungkin enak buat kami untuk melanjutkan percakapan tanda salah satu harus ada yang mendongak dan menunduk pada saat memandang. Namun ternyata keterkejutanku belum cukup sampai disini….!

Berada kurang lebih satu langkah disebelahku, beliau kini menggeser tubuhnya beringsut dan bergerak menghampiriku, mencari posisi pantatnya agar sejajar dengan posisi pantatku, mungkin ia hendak mengukur jarak antara tubuhnya dengan posisi bantalku, ia yang semula dalam posisi duduk kini merebahkan tubuhnya, merapat denganku, ikut menempelkan kepalanya pada bantal besar yang aku gunakan. Kaget aku karena tidak menyadari akan tindakannya dan secara reflek aku menggeser tubuhku, berusaha menjauh, namun sepertinya gerakan yang aku lakukan dianggapnya bukan untuk menjauhinya, tapi seolah mempersilahkannya, memberi ruang baginya untuk berbagi bantal dengannya !.

Terdiam aku beberapa saat, bingung harus melakukan apa, kalau aku saat ini bangun dan pindah, kemudian bermaksud kembali ke kamar, tentunya akan membuatku tak enak, ini mungkin akan menyinggungnya, ya iyalah, dia mungkin ingin aku terus bercakap-cakap dengannya kemudian mendekatiku dan aku malah meninggalkannya, gak enaklah, emang aku pergi karena merasa gak nyaman dekat dengannya, emang tante Marissa badannya bau ?, atau napasnya bau ?

Sementara mataku tetap mengarah ke televisi, punggungku merasakan ada sesuatu yang menempel, lengan bahu Tante Marissa, aku melihatnya sekilas dengan ujung mataku, sepertinya kurasakan Tante Marissa juga menatapku, seperti sedang memperhatikan seluruh tubuhku. Bingung aku, otak ini rasanya seperti blank, tak tahu apa yang harus kulakukan.

“Fan, kamu teh umur berapa sih ?” tanya Tante Marissa,

mungkin ini dilakukannya untuk memecah kesunyian, memang tak enak rasanya bila berdua-duaan tapi tak ada komunikasi sama sekali,

“23 Tan, hehehe… udah tua ya ” kataku menjawabnya sekaligus memberikan pernyataan dan pertanyaan yang kukira dapat memancing percakapan lebih jauh.
“Ya Belum Atuh, Ngora Keneh” sahutnya lagi, maksudnya masih muda dalam bahasa sunda, biasalah dikeluarga kami, bahasa selalu dicampur adukkan, kadang bahasa indonesia campur sunda, kadang bahasa sunda campur indonesia, lah kok bukannnya sama aja ? hehe..yang jelas bukan bahasa sunda campur bahasa sunda, kalo itu mah sunda murni, hehehe…
“Eh Fan, ari kamu teh pernah ML belum ?” tanya Tante Marissa, yang jelas membuatku tersentak kaget, dan entah aku harus menjawabnya bagaimana, mungkin karena rasa terkejutku,

aku membalikan badanku yang semula membelakanginya, kini terlentang, sejajar dengannya, dan tanpa sengaja sikutku menyentuh payudaranya, rasanya benda lunak itu, terasa kenyal dan kencang, kucoba untuk berpura-pura tak menyadarinya, dan berkata “Ih Tante, ada-ada aja nanyanya !” sahutku sambil pura-pura terkekeh.

“Halah… jangan bohong deh ma Tante, kamu udah belum ?” cecarnya kepadaku sambil senyam-senyum, “eh, tapi disini kan beda ya sama disana “ tukasnya lagi, maksudnya di indonesia, ya iyalah beda, masa sama, disini tau sendiri, ya kan ?, capek deh kalo musti gw jelasin, mending loe tanya aja ma pak RTloe sono !.
“Duh kasian banget tuh si Dede udah 23 taon masih dipake buat kencing doang !, hahahaha”, aku gak menjawabnya, hanya berkata dalam hati,
“duh sialan nih tante”, sambil garuk-garuk gak gatal aku jadi berpikir lagi,

“Udah belom ya ?” pikiranku jadi menerawang, ingat kejadian-kejadian dahulu, kalo aku ingat peristiwa aku dengan Tante Sandra, Tante Mala, apakah itu dihitung ML ? kan mereka semuanya dalam keadaan tidak sadar, jadi aku melakukannya hanya satu arah, gak bidirectional, jadi dihitung gak nih ?, terus waktu dengan Ira temannya Maya, sepertinya aku gak menikmatinya, wong keliatannya juga si Ira ama Nita lagi teler, gimana ? dihitung gak ?, gak deh.. gak usah dihitung, ntar malah kena pajak lagi !

“Eh, tapi kan kalau self service kamu pernah kan ? hayoo !” yah, dia ngeledek aku, jelaslah, masa coli gak pernah sih, malah kalo dihitung-hitung, mungkin kalkulator udah gak cukup kali digitnya.. heheheh.. aku bingung harus ngomong apa, yang ada jadi blingsatan sendiri, aku cuma senyum and cengengesan aja, mungkin karena sunyinya, jadi cengengesanku terdengar jelas olehnya, sehingga rasanya itu cukup menjawab pertanyaannya bahwa hal itu pernah atau malah sering aku lakukan.

“Tuh kan… yee… cengengesan, berarti iya !“ sahutnya tergelak, serasa memperoleh kemenangan.
“Eh Fan, kamu kalo self service gitu, apa yang kamu bayangin ?” sahutnya lagi,

“Tante gak pernah tuh, jadi tante gak tau, ya cuma yang tante tau, sebagian besar kaum laki-laki tuh suka melakukan masturbasi ya?, trus kalau kamu sendiri apa yang kamu bayangin ?“ katanya lagi, kalo kulihat membicarakan tentang seks menurut beliau adalah hal yang wajar, mungkin karena beliau sudah lama tinggal di luar negeri sana, jadi sepertinya membicarakan perihal seks adalah seperti membicarakan bumbu masakan saja.

“Ya Tante, ya jelaslah bayangin perempuan, masa ngebayangin cowok !” aku tertawa, namun jelaslah tawaku garing, susah kan ngomong ma cewek masalah gituan, yang ada malah kitanya yang gugup.
“Ye bukan, maksud Tante, kamu ngebayanginnya gimana ?, bagian tubuh wanita yang mana yang kamu suka ? trus ngapain ? kan kalo ML jelas gak perlu bayangin apa apa… just do it !”, kata Tante marissa lagi,
“Ah tau ah Tan !” aku ngeles sambil mengangkat tanganku pura-pura menutup mataku sekaligus kupingku, serasa ingin menyudahi percakapan ini.
“Yee si Fandi, cuek aja atuh Fan, ama Tante ini, anggap aja ama temen kamu !” dan sepertinya iya tertawa, dan ia yang tadinya dalam posisi terlentang kini memiringkan badannya, menyanggah kepalanya dengan tangannya seolah ingin aku serius menanggapinya.

Dan dengan posisi seperti itu, otomatis payudaranya yang dengan belahannya itu kini menempel ketat dengan lengan bahuku, dan jelas itu membuat pikiranku semakin tak menentu, membuatku semakin salah tingkah, membuatku yang tadinya mungkin harus menjawab pertanyaan Sang Tante kini malah balik bertanya kepadanya.

“Emang kalau tante sendiri gimana ?”, entah darimana datangnya, mungkin karena capek aku ditanya melulu, tiba-tiba saja keluar kata-kata itu dari mulutku,
“Gimana, gimana ? apanya yang gimana ?” jawab tanteku, yang jelas aku juga bingung sebenarnya apa sih yang ingin kukatakan atau kutanyakan, duh apaan ya ?.
“Ee….., gak, maksudnya, kalo Tante sendiri seberapa sering ML ?”, kataku lagi menjawab sekenanya,
“Ya Seringlah, Tante ama suami Tante bisa seminggu dua kali, kadang tiga kali “ sahutnya lagi, dan mungkin karena aku iseng dan entah darimana keisenganku muncul hingga aku menyahutinya lagi
“kalo dengan bukan suami ?” ujarku sambil terkekeh,
“Yee, Fandi, aya-aya wae…” namun ternyata iya malah tergelak, kukira iya marah atau apa, menurutnya mungkin pertanyaanku ini lucu dan aku merasa kalau ia tak perlu menjawabnya.

Tapi…..

“Sstt.. ini rahasia yah, kamu jangan cerita-cerita ama siapa-siapa, menurut kamu badan tante gimana Fan, bagus gak, kalo buat cowok single kira-kira masih laku gak ? “ aku tak mengerti arah pembicaraan beliau, namun ya iyalah, jelaslah, lah wong aku aja melotot ngeliat bodynya, tapi maksudnya itu apa ?, Emang sih beberapa saat yang lalu aku rasanya pernah menguping pembicaraan antar Tante Mala dan Tante Marissa, sekilas sepertinya Tante Mala menanyakan proses perceraian gitu, tapi aku gak tahu apakah yang dimaksud adalah proses perceraian Tante Marissa dengan suaminya atau siapa, gak taulah.

“Emang kenapa Tan ?, emang Tante mo nyari cowok single buat apaan ? buat maen badminton ? trus tante mo maen buat ganda campuran ?” aku tertawa kecil, namun rasanya ia tak memperdulikan komentarku, “Yee, si Fandi, ngabodor wae, menurut kamu gimana ?” aku terdiam sejenak, kemudian aku memalingkan mukaku kearahnya, seakan membuktikan padanya bahwa aku akan serius menyikapinya,

“Ya iyalah Tan, badan tante masih bagus banget kok, masih kenceng, abis Tante kan masih sering olahraga, malah Fandi kira umur tante masih dibawah 30 tahun”, sahutku cepat seakan-akan ingin menyenanginya, sekilas aku melirik kearah dadanya, hanya sekilas, kulihat belahan dadanya seolah membelah dua gunung kembar putih, indah, seandainya aku berani menyentuhnya, mengelusnya kemudian meraba sambil menelusurinya perlahan dan mengatakan

“Bagus banget nih Tan, putih, mulus, dan kencang kok”, kemudian aku mencoba untuk meremasnya pelan, hehe…

“Masa sih Fan ?, kamu jangan nyeneng-nyenengin tante deh, umur Tante kan udah 36, anak Tante aja yang besar udah SMA, masa sih, segitunya menurut kamu “, entah apa yang ada dipikiran tante Marissa, dikiranya aku menjawabnya sekenanya saja, karena aku menjawabnya tanpa memalingkan muka kearahnya, ya iyalah, kalo aku menjawabnya sambil berhadap-hadapan dengannya bisa kacau, udah muka kami sangat dekat sekali, trus pakaiannya yang jelas mengundang selera, kemudian dedeku tiba-tiba bangun dan membuat celanaku menonjol keluar, ini aja udah aku tahan, kan bisa berabe !.

“Iya Taaan, serius, bener, saya gak bohong” sahutku lagi, dan kali ini aku menimpalinya tanpa menengok kearahnya.
“Fan, serius…” tiba-tiba saja, tangannya menarik tubuhku, membuat badanku berbalik, dan ini yang aku takutkan, kini mukaku menghadapnya, dan mau gak mau pandanganku kini mengarah ke mukanya !, “Apanya sih Tan ?, serius, bener, Tante kalo Fandi bilang sih, masihlah, masih kenceng, bahenol “ kataku sambil senyum, padahal pikiranku jadi agak error, apalagi waktu melihat kearah buah dadanya, yang sepertinya hendak meloncat keluar.

Dan mungkin karena melihat sorot mataku yang mengarah ke buah dadanya, ia mengangkat tangannya dan menggerakkannya kearah dadanya, seakan ingin menutupinya. Jelas ini membuatku agak malu, membuat kepalaku tertunduk, mungkin kalo dilihat pada cahaya yang terang, ada rona merah diwajahku. Tapi ternyata selanjutnya malah membuatku semakin terkejut, tante Marissa malah menarik bagian atas bajunhya, memelorotkannya ke bawah hingga bagian pakaian yang menutupi dadanya kini telah membuka dengan lebar !.

Sejenak ia memegang putingnya, tampaknya bagian atas payudaranya itu telah menegang den mengeras !, mungkin ia menyadari bahwa ada yang salah dengan putingnya, mungkin karena pengaruh pembicaraan kami atau pengaruh minuman yang diminumnya, atau hawa dingin yang menerpanya hingga membuat putingnya mengeras.

Kini menyembullah, dua bukit kembar, besar dan putih itu, dengan bentuknya yang bulat, proporsional, jelas sungguh indah dipandang, dan malah seperti magnet yang membuat tangan lelaki, tertarik ingin memegangnya dan bahkan mungkin ingin meremas-remasnya, dan kalo bisa menyedotnya sampai kempes… hehehe.. emang balon isi aer !.. xixixixi..

Entah apa yang ada dipikiranku, dengan jarak sedekat ini, kalaupun aku ingin menyentuhnya, tanganku malah tak perlu menjulurkannya, ini aku malah harus menekukkan sikutku. Bingung apa yang harus aku lakukan, kalo aku memegangnya, jangan2 aku malah ditamparnya, padahal duh.. pengen sekali aku menjamahnya…. hiks.!

“Fan, gimana menurut kamu, dada tante masih bagus kan ?” katanya kemudian, dalam kebingunganku harus berkata apa, dan membuatku seperti merinding,

“Masih kencang kan Fan ?” aku tak memberi jawaban apa-apa, seolah mulutku terkunci, tak tahu harus mengatakan apa, mulutku hanya mampu terbuka, melongo, dan kemudian tangannya membuat gerakan, meraba-raba, mengelus-ngelus payudaranya, menelusuri permukaan dadanya dengan tiga jari yang berada ditengahnya, dengan lembut, ya mungkin adegan seperti ini hanya dapat kusaksikan di filem-filem blue yang suka kupinjam dari temanku semasa SMAku dulu, tapi yang kulihat kini adalah liveshow, didepanku, hanya berjarak beberapa centimeter dari mataku saja.

“I..I…Iya Tan, ba…ba…bagus banget, kayaknya masih kenceng“ dengan tersendat aku menjawabnya, dan entah kenapa, suaraku sepertinya sedikit parau, seperti lama tak kena air, ya iyalah, pemandangan didepanku ini membuatku serasa ingin menelan ludah.

Dan di dadaku sepertinya jantungku berdegup dengan kencang dan cepat !.

“Kok kayaknya sih, gimana ? masih bagus gak ? jujur dong ah, biar tante tau gimana pandangan lelaki, saat melihat dada Tante, Fan “ ia menghentikan gerakannya, sepertinya ia menatapku, sesaat, menatap bola mataku, sesaat bola mata kami beradu pandang, tak kuat aku menatapnya lebih lama, kualihkan pandangan mataku kearah yang lain.

Sulit aku menjawabnya, sepertinya ia memperlihatkan payudaranya kepada laki-laki adalah hal yang biasa, dan nampaknya kupikir ia hanya sekedar ingin memperlihatkannya padaku sesaat saja, kemudian dengan segera menarik kembali bajunya, menutupinya dengan segera, namun yang terjadi malah ia semakin memainkan payudaranya tersebut, merabanya, mengelus-elusnya, meremas-remasnya dan kini ia memainkan putingnya, memilin-milinnya, memencetnya, dan membuat puting itu kini semakin tegang dan mengeras, sementara aku hanya sanggup memelototinya, tertegun, hingga kulihat pada raut mukanya yang menatapku, tersungging senyuman, senyuman yang menurutku agak gimana gitu, entah senyuman yang dilakukan untuk merayuku atau ada maksud lain didalamnya.

Tiba-tiba saja dengan ujung dengkul kakinya ia membuat gerakan…., menyongsongkannya ke depan, meraba dengan dengkul dan betisnya, tanpa kusadar, menyentuh celanaku, seakan tahu dimana letak dedeku, yang sejak tadi telah terusik dari bangunnya.

“Ups…Halah..Si Fandi, ternyata kamu gak tahan juga, hihihi.. punya kamu udah bangun tuh ya ?, jangan – jangan dari tadi !” tante Marissa terkekeh, duh untung suaranya tertawanya pelan, seandainya ngakak kencang mungkin akan membuat tante Mala, dan Moza terbangun, dan ini akan membuatku malu, jika saja mereka tahu bahwa aku sedang dikerjain oleh Tante Marissa.

Advertisements